Self-Love, Because You are Your Home

Hi you lovely people! Postingan ini bakalan jadi postingan perdana di kategori Life. Yup, kategori ini tuh dari awal emang aku niatin buat sharing tips and tricks about life. Masalahnya kita nih hidup apalagi yang remaja or young adult itu gak ada guide booknya. Kadang suka bingung gak sih, what should I do if something happen, terus akhirnya gupuh sendiri gimana gitu. The thing about life is, it’s a learning by doing project. Jadi ada momen dimana kita harus fail dulu untuk tau arti sukses itu apa. Pertanyaannya, apakah hal ini bisa dihindari? Sebenarnya bisa, caranya yaitu belajar dari kesalahan orang lain. Failure is the best teacher kalo kata orang-orang wise diluar sana. Maka dari itu, aku berharap postingan disini bisa jadi wadah buat kalian sharing and learning about life.

Kali ini apa yang kita bahas? Buat temen-temen dari Instagram aku pasti udah pada tau karena kali ini mereka terlibat langsung jadi responden untuk artikel ini. SELF LOVE, pada sering denger pasti ya kan? Yakin deh kalian sering banget denger quotes ini; ‘You can’t love others until you love yourself first.’ Setuju gak kalian dengan quotes ini?

Kemarin aku sempet tanya ke temen-temen di Instagram definisi mereka soal self-love dan sadly gak banyak yang bales walaupun polls yang aku buat diikutin hampir 100 orang, tapi waktu sampai di mini essay cuma tiga orang yang ikut.

“I personally think that self-love is being able to accept the parts of yourself that no one claps for. Self-love is knowing that you don’t need other people’s validation in order to feel enough. Self-love is not merely about accepting your physical imperfections, but also your past, and your mistakes. Self-love is learning how to love and accept yourself so that you can love and accept others in a better way. Self-love is not an act of self-absorption, in fact, it’s an act of respecting yourself.”

-Sheby

Bener gak sih definisi self-love menurut Sheby? Bener-bener aja, karena self-love gak punya definisi yang saklek. Tiap orang punya definisi self-love masing-masing karena hal ini merupakan sebuah konsep yang sifatnya dinamik dan kita punya cara masing-masing untuk menunjukan rasa cinta itu ke diri kita, right? But she scratches every aspects of the main meaning about self love. Also it’s so beautifully written, thank you for sharing it with us, Sheby.

Buat yang masih bingung, intinya self love itu adalah perasaan cinta, apresiasi dan menerima diri kita apa pun yang terjadi dan tidak akan berubah walaupun keadaannya berubah.

Pada hari pertama, aku minta temen-temen di Instagram untuk nyebutin tiga kata untuk mendeskripsikan diri dan hidup mereka juga pandangan mereka tentang dunia. Waktu aku minta mereka sebutin tiga kata untuk mendeskripsikan diri mereka, ada 15 responden yang terlibat dan ada 13 orang yang menggunakan satu sampai dua kata dengan konotasi negatif tentang diri mereka.

Waktu aku minta mereka sebutin tiga kata untuk mendeskripsikan kehidupan mereka, ada 13 responden yang terlibat dan ada 7 orang yang menggunakan satu sampai dua kata dengan konotasi negatif tentang kehidupan mereka.

Dan waktu aku minta mereka sebutin tiga kata untuk mendeskripsikan dunia, ada 12 responden yang terlibat dan cuma ada 2 orang yang memandang dunia dengan sisi positif. Kata-kata yang paling sering diulang adalah ‘sementara’.

Apa hal ini berarti temen-temen gak mencintai diri mereka? Gak juga. Hal ini harus dikaji lebih dalam karena ada dua hal yang bisa diintrepretasikan dari hal ini yaitu mereka mengenal diri mereka sangat baik sampai-sampai mereka tahu bahwa sifat negatif itu melekat di diri dan menjadi salah satu bagian dari mereka ATAU mereka melakukan yang namanya self-loathing.

Apa itu self-loathing? Ini tuh kebalikannya self-love, dimana kita mengkiritisi diri dengan sangat amat sampai-sampai kita membenci beberapa hal dalam diri kita dan berpikiran bahwa hal ini ikut membentuk diri kita menjadi apa adanya saat ini. Ada quote yang bilang ‘We are our own worst critics.’ and gurl, I’m with them on this case.

Ada beberapa tanda bahwa kalian melakukan yang namanya self-loathing dan hal ini kemarin aku sampaikan dalam bentuk case pada polls yang kalian ikuti di Instagram. Untuk polls resultnya ada di highlight Instagram aku dengan judul self-love (click here). So, let’s get started!

Yang pertama soal social media for approval & validation. Jadi kalian pake sosmed itu cuma biar dibilang ini dan itu sama orang lain. Taunya gimana? Ya kalau kalian sering banget ngecekin sosmed terus liat udah berapa likes and comments di foto kalian atau udah berapa orang yang liat story kalian hari ini. Bisa juga dilihat dari seberapa obsesinya kalian sama applikasi editing buat ngecilin tangan dan paha dan editing jerawat biar mulus aesthetic dan kawan-kawannya. Dari 87 responden, 11% bilang kalau mereka itu ngelakuin hal ini. Kalian harus sadar kalau boosting your self-esteem via sosmed itu gak akan bertahan lama dan bukan suatu hal yang nyata. Kalian harus sadar kalau kalian gak bakalan butuh orang lain untuk ngelike postingan kalian di sosmed kalau kalian like yourself enough di kehidupan nyata.

Yang kedua nih buat kamu pendapat orang lain itu berarti banget sampai-sampai kalau kamu mau beli sesuatu dan ada yang bilang kalau itu gak cocok atau bikin kamu keliatan less than usual kamu bakal langsung berubah haluan dan ninggalin produk tadi, walaupun nih kamu suka banget ama produk itu. And funnily, 50% dari 88 responden yang ikutan polls aku di Instagram bilang kalau itu mereka banget. Disini kalian harus sadar kalau this is your life, not theirs. Jadi jangan termakan sama omongan orang lain and wear whatever you want, be whatever you want to be.

Yang ketiga, you put so much efforts to fit in. To be honest, aku gak yakin case yang aku buat di polls itu ngerepresentasiin hal ini. Atau mungkin para responden malu buat mengakui terang-terang, it wasn’t completely anonymous after all. Tapi aku yakin kalian yang baca pasti bisa ngereview diri kalian sendiri. Nah, saat kalian benci sama diri kalian, you will try so hard to be somebody else sampai-sampai kalian itu cuma pura-pura aja kalau lagi sama orang lain dan hidup kalian itu cuma buat ngebangun good impression. Mungkin singkatnya jaim ya. Yakin deh, semua orang pasti pernah at least sekali ngelakuin hal ini. Apalagi kalau baru pindah, entah pindah kota, kantor, sekolah, universitas, dan sebagainya. Pasti banyak banget yang mati-matian nyoba untuk berbaur sampai-sampai mereka ngelepas semua hal yang melekat di diri mereka dan gantiin hal ini dengan yang ada pada diri orang di sekitar mereka. You don’t have to do it, Sweetheart. Mereka yang support kamu akan selalu terima kamu apa adanya. Kalau mereka gak bisa terima kamu dengan segala kekuranganmu, berarti mereka bukan orang-orang yang tepat untuk kamu. Be yourself, don’t succumb to society.

Yang keempat, you’re too hard on yourself. Yang paling keliatan tuh ya kalau kalian sering banget minta maaf karena kalian selalu nyalahin diri kalian bahkan atas hal-hal yang gak bisa kalian kontrol. Contohnya perubahan mood orang lain, ini bukan sesuatu yang kalian bisa kontrol. Banyak banget aspek yang mempengaruhi hal ini dan kalian gak perlu minta maaf kalau tiba-tiba orang lain bad mood dan marah-marah. Sadly, 79% dari 97 responden yang ikutan polls aku di Instagram bilang kalau ini merupakan suatu hal yang mereka lakuin. If you are in relationship dan hal ini HANYA kejadian tiap kali kalian sama pasangan, ada kemungkinan besar kalian lagi berhadapan dengan yang namanya Narcissistic Person. Yang perlu kalian sadari bahwa setiap orang itu pasti berbuat kesalahan dan kita gak akan bisa mengkontrol segalanya. Terlalu sering minta maaf juga nunjukin a lack of self-worth dan kadang kalian harus stand up for yourself dan tunjukin ke orang lain kalau kalian udah lakuin yang terbaik.  

Yang kelima, I’m guilty of it as well; gak bisa menerima pujian. OMG! hampir 42% dari 81 responden bilang kalau mereka ngerasain hal yang sama. Kadang suka tiba-tiba awkward kalau ada yang muji. Nah hal ini termasuk salah satu tanda self-loathing, karena kadang kita gak percaya sama pujian yang mereka sampaiin which means kita gak percaya kalau kita punya hal itu (yang dipuji oleh mereka) dalam diri kita. Buat temen-temen yang bermasalah sama ini, kalian bisa sesekali coba tanya orang terdekat kalian tentang sifat atau karakter kuat apa yang melekat di diri kalian. You might be surprised to find out what good qualities they think you have.

Keenam, you do regularly pity yourself. Tiap hari kerjaannya sambat, postingannya penuh dengan sad quotes biar orang-orang pada tau kalau kalian lagi sedih dan hidupnya itu berasa black and white doang, gak ada warna. Sekitar 21% dari 89 responden bilang kalau mereka ngelakuin hal ini. Kalian harus sadar Guys, satu-satunya orang yang bisa bikin kalian bahagia itu cuma diri kalian sendiri because everyone is busy saving themselves.

Last but not least, gak bisa dong bahas tentang self-love tanpa love itself. Seperti quote di awal, ‘Kalian tidak akan bisa mencintai orang lain sampai kalian mencintai diri kalian terlebih dahulu.’ Nah, biasanya salah satu tanda self-loathing adalah takut jatuh cinta. Karena ketika kita jatuh cinta, kita menyerahkan separuh jiwa kita untuk orang lain dan ini bikin kita di posisi yang vulnerable. Biasanya ini berhubungan dengan insecurities dimana kita merasa kalau diri kita itu kurang ini kurang itu dan gak pantes dicintai oleh pasangan kita yang mostly dalam pandangan kita adalah orang yang sempurna. Tapi yang perlu kalian tahu nobody is perfect. Malahan, ketidaksempurnaan kita adalah hal yang membuat kita menjadi unik dan berbeda. Buat yang baca ini and already in a relationship but you still feel this way, ada kemungkinan besar kalian jatuh cinta sama yang namanya Narcissistic Person. Ini toxic banget dan harus hati-hati ngadepinnya. Jangan lupa komen kalau kalian emang tertarik sama topik ini dan InsyaAllah bakal aku bahas kalau banyak yang minat.

Nah sebagai penutup, kemarin ada tiga temen kita yang sharing sedikit tentang perjalanan hidup mereka buat mencapai posisi sekarang dimana mereka udah berdamai dengan diri dan bisa mencintai diri mereka apa adanya. Here we go!

“ A long long journey for me to finally forgive my past, forgive myself and love me as what it is..

Dulu waktu sma aku banyak dapat kesempatan keluar negri, pertukaran pelajar, icip2 dunia that i dreamt of.. but never got a chance to do it..

Dilarang ini itu semua dilarang. On the other hand, my two siblings had a chance to do what my parents forbid me to do, so unfair..

Setelah menikah justru punya kesempatan lbh banyak lihat “dunia”, trus punya anak no 1, 2 dan 3..

Jangan ditanya i feel sooooo blessed. Tp aku juga pundung, karna banyaaak hal yg aku belum lakukan tapi kewajibanku akan anak2 ga bisa ditinggal..

I start to blame my parents, tho i know they did the best for me with a good reason too ( as i’m a parent too, i can understand them)

Mulai deh emosional gampang marah, ga tersalurkan, yg jd korban? Anak2!

Till, i share everything i feel with my hubby, he said “kamu perlu memaafkan masa lalu untuk maju kedepan”

Itu bener bgt.. akhirnya aku berkesempatan travelling bareng temen2, rasanya ya Allaaah ga pernah2 seumur hidup bisa keluar nginep bareng temen2 😅

Setelah itu aku mulai mikir untuk take care of myself, start olahraga karna pengen lbh fit, start pake bodylotion, sabun yg wangi2.. sesuatu yg mungkin ga tampak bagi orang lain, tp aku enjoy.. i do it for my self!!

Amazingnya, aku sampai di stage, aku suka diriku apa adanya.

Dulu aku suka make up yg panglingg mukanya berubah jd cantikk. Skrg aku merasa cantik, jd mau nya make up yg soft aja yg ga merubah mukaku jd org lain, because i love my face just the way it is..

Aku olahraga untuk merasa lebih sehat, aku pgn bodyshape tertentu bukan untuk dipuji tp untuk kepuasan pribadi (jd kurus pun ga keliatan karna aku pake bajunya loose)..

Kalau target pribadiku terpenuhi, rasanya sweeter than a chocolate 😅

Aku ga cravingg pengen keluar negri sendiri lagi, cukup sudah pernah merasakan, skrg pgnnya sama keluarga aja…

Skrg aku tenang, aku tau dunia luas banyak yg belum aku lihat.. tapi, yg sudah aku lihat dan aku punya jauhhh lbh indah dari yg belum aku lihat, aku syukuri itu…

Errr juga, semakin bertambahnya pemahaman agama, semakin aku merasa ga perlu mengejar dunia segitunya. Lebih mudah untuk merasa “cukup, alhamdulillah” no matter what other say.. “

-Rania, wife and mother of three.

 

“banyak sih tammmm sampe bisa sesayang ini sama diri sendiri. tapiiiiiiiii awalnya itu karena dulu jaman jahiliyah pacaran yang buat aku insecure sama diri sendiri. bahagia sebenarnya, tapi gimana ya setiap muncul masalah aku ngalah salah, nyaut salah, diem salah. akhirnyaaaa mutusin buat buyar daripada mikut gendeng nyalahin diri sendiri dan kebetulan baru2 mau peduli belajar ga pacaran karena dosa.

Abis itu soal jerawat sih, sampe detik ini yang masih sayang sama aku. dulu tiap ketemu orang nasehat apa yang tidak diberikan untuk jerawatku, kalo jerawat bisa ilang gara2 dapet siraman rohani wes mulus paling aku. aku juga mau mulus tapi Allah berkehendak lain.

Sayang sama diri sendiri sama kaya nerima apa adanya. bukan ga boleh ngeluh ya menurutku, tapi setelah itu wajib sayang lagi. aku suka ngomong sama diri sendiri sih. “iyaaa gpp Beb, jerawatnya lagi dateng semua. nanti juga dia pergi. karena sesungguhnya tidak ada yang abadi.”

Sekian aku receh, tapi sayang.❤️

-Anonymous

 

“I am aware that my journey in perfecting my self-love has a long way to go.. I still get easily insecure on a daily basis, but that won’t break down my spirit in trying to implement self-love and you all should too. Self-love first!!! ❤️ And last but not least, be your own kind of beautiful and renounce the toxic, so-called society’s beauty standard! #YouAreEnough 💗

-Sheby, a daughter and dear friend.

Aku berharap cerita dari Rania, Sheby dan salah satu temen kita yang gak mau disebutin namanya bisa nginspirasi kalian kaya mereka nginspirasi aku. Tbh, aku belajar banyak banget selama aku ngelakuin projek ini. Sharing cerita tentang hidup dengan orang-orang yang menginspirasi dan belajar mengenal diri lebih baik lagi. I’m not a believer of new year resolution and stuffs, but one thing that I know is from now on I want to put myself first before others. It will be me, myself and I.

“Because when you love yourself enough, no matter how cruel the world is you will never have the feeling of wanting to run away from reality because you are your home. As cliché as it is, please remember that if you can’t love yourself enough, who will?”

– Rayi Noormega

This Post Has 2 Comments

  1. Cerita Rania ini relateable banget sama aku, kecuali part hubby nya sih hehe. Tapi cara dia akhirnya memaafkan masa lalu ngasih sedikit pencerahan gimana “hidup itu adalah proses”.

    1. Alhamdulillah.

      Bener banget, kadang kita lupa kalau kita gak akan selamanya di posisi ini. Dan semoga kedepannya kita bisa lebih baik, lebih mengerti dan lebih mencintai diri kita. Thank you for reading Rania’s story. Semoga membawa manfaat buat kamu dan temen-temen yang lain xx

Leave a Reply

Close Menu